Header AD

Cerita "Sesajen Pohon Jujuk" Part 6

5 Buku Horor Terpopuler
Halo sahabat Aku Indo !!
Kali ini kita bakal lanjutin cerita horror "Sesajen Pohon Jujuk". Ini udah part yang kelima ya sahabat Aku Indo. Buat sahabat Aku Indo yang belum baca part 1, 2, 3, 4 dan part 5, bisa langsung klik link dibawah yaaa hehe. (biar ceritanya nyambung).
Langsung aja nih cerita part 6 nya.


20. WE CATCH YOU

Malam itu seperti biasa, kedua orangtua ku duduk santai, mumpung bibi sudah pulang, aku niatkan untuk bertanya kepada orang tua ku soal Romo Aji.
"Ma, pa, Ica boleh tanya?"tanyaku, mereka manggut.
"Sebenarnya, papa kenal sama Romo Aji sejak kapan?" Tanyaku. Nampak diwajah papa keheranan dengan pertanyaan ku.
"Sejak kita pindah disini, nak" jawabnya, "jadi bukan dari bibi?" Tanyaku lagi.
"Bukan, Ca, papa mengenal Romo Aji dulu, baru bibi, bibi itu rekomendasi dari nya" jawabnya.
"Gila!! Benar-benar gila, jadi apakah bibi dan Romo Aji memang dalang dari semua ini?" Batinku.
"Pa, bawa kak Ray pulang, Romo Aji itu bukan orang baik" pintaku.
Papa dan mama terkejut mendengar ucapan ku, aku menceritakan semua yg Mutia katakan padaku.
"Pa, bener kata Ica, ayo jemput Ray, disana Ray tidak aman" ucap mama.
"Bener-bener gila, jadi ini ulah Bu Ratmi dan Romo Aji!!" Ucap papa geram.
"Kita udah nuduh Ray yg nyebabin semua ini, pa, mama nyesel lebih percaya orang lain daripada anak sendiri" kata mama.
"Tapi kenapa kak Ray bilang ini salahnya, pa, ma?" Tanyaku.
"Karena lewat benda itu, iblis itu dengan mudah dekat dengan mu, Ray yg memberikan benda itu, makanya dia merasa bersalah" jawab papa.
"Bros itu maksud papa?" Tanyaku, papa manggut.
"Benda itu di "isi" dan dijadikan pintu perantara agar bisa masuk ke badanmu, papa kecolongan, kita dipermainkan" jawab papa.
"Mama ga nyangka ternyata bi Ratmi itu istri Romo Aji" ucap mama lirih.
"Yg terpenting sekarang mari kita jemput Ray" ucap papa, kami pun setuju. Saat kami keluar rumah, disana sudah ada Mutia dan Yai Wiji.
"Kami tidak akan membiarkan kalian bertarung sendiri" ucap Yai.
"Mutia, makasih ya" ucapku.
Kami menuju rumah Romo Aji bersama, dengan mobil papa, dalam perjalanan kami saling minta maaf dan meluruskan kesalahpahaman ini.
"Pun, mboten perlu di dadosaken ageng, namine salah paham nggih wajar, sing penting pun semerap" (sudah, jangan dijadikan besar, namanya salah paham ya wajar, yg penting sudah sama-sama tau) ucap Yai.

21. SATRIA
(Mutia sebagai "aku")
Setengah dalam perjalanan menuju rumah Romo Aji menjemput Ray, tiba-tiba Ica menjerit histeris, terpaksa kami berhenti untuk memeriksa keadaan nya.
"Ca, istighfar nak" ucap mama Ica sembari meneteskan air mata, papa nya sibuk memegang tangan Ica karena ia berontak saat Yai membaca doa untuk menenangkan nya.
Perasaan ku mulai tak enak, aku bantu doa sebisa ku.
"Arek iki wes tak cancang, koen kabeh kecolongan... Hahaha" (anak ini sudah aku ikat, kalian semua kecolongan) ucapnya.
Suara Ica yg lembut berubah menggelegar, urat-urat nya menyembul, mata nya terbelalak lebar, hampir 20 menit dia seperti ini, tangisan mama nya makin menjadi.
"Kok bisa kayak gini, Yai? Saya kira Ica sudah benar-benar bersih" tanya papa Ica.
"Rupanya sebelum ini, Aji telah melakukan suatu hal kepada Ica, yg tak kita tau itu apa dan kapan" ucap Yai.
"Lalu apa yg harus kita lakukan, Yai?" Tanya papa Ica.
"Kita tetap melanjutkan perjalanan ini kerumah Aji" jawab Yai,
"Apa ga makin membahayakan Ica, Yai?" Tanyaku.
"Tidak, Aji tak bisa menyentuhnya" ucap Yai yg membuat kami semua bingung. Dalam perjalanan Ica masih berteriak dan mengejang terus menerus, seperti sangat kesakitan, tak lama kami pun sampai dirumah Romo Aji.
"Akhirnya yg ditunggu datang juga" ucap Romo Aji.
"Kembalikan putraku!! Kamu sudah membohongi kami semua dengan fitnah yg keji" ucap papa Ica, Romo Aji tertawa, tak menjawab papa Ica.
"Kamu sudah mengingkari janji mu, Ji, saya tidak akan tinggal diam" ucap Yai.
"Kenapa Yai selalu ikut campur?" Tanya Romo Aji,
"Jelas saya ikut campur, kamu sudah membahayakan nyawa penduduk di desa ku, kenapa? Kamu takut kalau saya yg turun tangan? Ditambah dengan Satria? Lawan tandingan Cakrawati?" Ucap Yai.
Wajah Romo Aji berubah, ia terbelalak saat Yai menyebutkan nama Satria.
"Satria? Penjaga keluarga ku?" Ucap papa Ica lirih. Yai yg mendengar nya manggut.
"Itu salah satu alasan Cakrawati mengincar Ica, karena Satria lah yg saat ini menjaga Ica, putri mu" jelas Yai.
"Aku pikir selama ini Satria sudah menghilang ikut kematian ayahku, tapi ternyata ia masih setia menjaga keluarga kami" ucap papa Ica.
"Benar, ia tak menampakkan wujud nya karena Ica belum matang dan belum siap" terang Yai.
"Tapi jika Satria tandingan Cakrawati, kenapa dia berani sekali mengganggu orang yg Satria jaga? Bukan kah akan jelas Cakrawati akan kalah?" Tanyaku, Yai menggeleng.
"Bukan masalah takut, menang atau kalah, tapi takdir Cakrawati memang harus melawan Satria, jika tidak Cakrawati akan terus menjadi budak pohon jujuk, ia tak akan pernah bebas, karena Cakrawati sebenernya bukan orang jahat, takdir nya lah yg memaksa ia seperti ini" jelas Yai.
"Kenapa malah mendongeng? Mau tidur?" Ledek Romo Aji, dari dalam rumah terlihat bu Ratmi membawa tampah berisikan sesajen, untuk ritual pemanggilan Cakrawati, tentunya.
"Bi, saya tidak menyangka ternyata ulah bibi seperti ini" ucap mama Ica sembari memangku badan Ica yg pingsan, Bu Ratmi hanya tersenyum sinis. Yai dan papa Ica bersila dan memejamkan mata, entah apa yg mereka lakukan, aku hanya tau sukma mereka akan bertarung.

13. SATRIA PART 2

("Aku" sebagai Ica)
Saat dalam perjalanan kerumah Romo Aji aku merasa was-was, pikiran ku hanya tertuju pada kak Ray, bibi dan Romo Aji, tak ku sangka orang yg ku anggap baik ternyata penyebab dari masalah di keluarga ku. Samar-samar aku melihat pria gagah menunggangi kuda, tampilan nya seperti raja di kerajaan yg aku tonton di film kolosal selama ini, ia berjalan tepat disebelah mobil yg melaju.
"Mana mungkin di jaman sekarang ada yg seperti ini? Paling cuma halusinasi ku aja" batinku. Ia tersenyum.
"Naiklah kemari, aku akan melindungi mu" ucapnya.
"apaan sih nih orang, kenal aja ngga, mau lindungi segala" batinku, aku masih diam tak menghiraukan nya.
Saat aku berkedip Seketika mobil yg aku tumpangi berubah menjadi tempat asing, tempat yg sangat panas, seperti di gurun pasir, tapi cahaya disini merah, aku berteriak-teriak memanggil papa dan mama.
"Naiklah, cepat!!" Ucap si pria, aku masih tak mempedulikan nya. Aku berjalan tak menentu, tak tau harus kemana. Dari jarak beberapa meter ada seorang wanita, ya, wanita yg dulu bersama Cakrawati. Saat ia hendak menghampiri ku, ia di hadang oleh pria berkuda, lalu ia jatuh tersungkur ke tanah.
"Naik lah, agar aku bisa melindungi mu" ucapnya, kali ini aku mengiyakan ucapanya, aku segera berlari menaiki kuda tersebut.
"Ini mimpi? Aku berhalusinasi lagi? Yg aku alami ini sungguh mengada-ada" pikir ku.
"Untuk sementara sukma mu aku amankan, biarlah saat ini Cakrawati menempati ragamu hingga tenaganya terkuras" ucap si pria.
"Maaf, Anda siapa?" Tanyaku.
"Satria" jawabnya, ia berhenti lalu turun dari kuda meninggalkan ku.
"Jangan pernah turun dari kuda ini, aku akan memusnahkan mereka" , ucap nya.
Kulihat mereka saling bertarung, entah berapa lama yg jelas prajurit Cakrawati sangat banyak, Satria sama sekali tak terlihat lelah, ia sangat tangguh melawan mereka tanpa sedikitpun tersentuh. Samar-sama kulihat papa dan Yai Wiji, mereka datang bersama Romo Aji, mereka bertiga juga ikut bertarung.
"Apa-apaan ini? Padahal selama ini aku tertawa ketika menonton film kolosal, tapi kenapa ini malah terjadi di depan mataku?" Batinku.
Tak lama Cakrawati muncul lalu hendak menghampiri ku,
"berani kau menyentuh nya?" Tanya satria,
"Ketemh maneh, koen mesti melok-melok!! aku ga ngarah meneng, anak buahku kon pateni kabeh" (Kita bertemu lagi, kamu selalu ikut campur!! Aku tak akan tinggal diam melihat anak Buahku kau bunuh semua) ucap Cakrawati marah.
"Podo, aku yo ga iso meneng ndelok koen njupuk sukmo e arek iki!!" (Begitu pula denganku, aku tak akan tinggal diam melihat kamu mengambil sukma anak ini!!) Jawab Satria.
Lagi.. aku melihat pertarungan mereka, kulihat wanita yg bersama Cakrawati sudah lenyap entah kemana, Romo Aji pun berhasil dikalahkan oleh papa dan Yai Wiji, sementara Satria dengan Cakrawati masih terus bertarung.
BLARRRR* bak suara petir di iringi cahaya terang, seketika aku tak sadarkan diri. "Bangun Ca!!" Teriak mama, aku berusaha membuka mataku yg masih berkunang-kunang, semua orang sudah berkumpul, di antaranya aku melihat sosok yg selama ini aku rindukan.
"Kak Ray..." Ucapku lirih, kulihat ia tersenyum, sudah lama rasanya aku tak melihatnya tersenyum tampan seperti ini.
"Alhamdulillah..." Ucap semua orang serentak.
[[Beberapa hari kemudian]]
"Aku ga sadar selama 2 hari??!!!" Ucapku setengah berteriak, papa manggut.
"Terus gimana Romo Aji dan Bu Ratmi?" Tanyaku.
"Romo Aji meninggal, Bu Ratmi linglung" jawab papa.
"Beginikah akhir dari orang yg bersekutu dengan jin?" Batinku.
"Kak Ray baik-baik aja kan?" Tanyaku.
"Alhamdulillah, kak Ray baik-baik aja, Ca" jawabnya manggut.
"Kak Ray kenapa ga jujur sama papa?" Tanyaku.
"Udah lah, tapi papa malah percaya sama si Aji!!" Jawab kak Ray emosi.
Kulihat wajah papa nampak bersalah, papa hanya terdiam menunduk.
"Malah kak Ray disuruh jauhin Mutia, padahal mereka mau menolong kita, si Aji sialan itu berhasil mempengaruhi papa, kakak dijadikan tawanan disana, kakak kayak mayat hidup, gila!!" Imbuh kak Ray marah.
"Sudah,, sudah, ini kan sudah berlalu, yg terpenting sekarang semuanya baik-baik saja, maafkan papamu, Ray" ucap mama menengahi. Kak Ray melihat papa, ia juga merasa bersalah karena telah menyudutkan papa.
"Maaf ya ,pa, bukan maksud..." Kata kak Ray yg belum selesai.
"Maafkan papa juga ya" ucap papa, "pa, Satria itu siapa?" Tanyaku.
"Dia pengikut setia kakek mu, Ca, ia setia menjaga keluarga kita, tentunya dengan izin Allah" jawab papa.
"Tapi, Cakrawati itu kemana, Pa? Apa dia ga akan menggangu kita lagi?" Tanya kak Ray.
"Tidak akan pernah, Cakrawati telah dibinasakan oleh Satria" jawab papa, mendengar itu, kami merasa lega.
"Waktu kamu kerumah Romo Aji dengan bibi, apa yg mereka lakukan? Kenapa waktu itu Yai bilang Romo Aji berbuat sesuatu yg tak kita tau itu apa dan kapan?" Tanya mama.
Aku sedikit bingung dengan pertanyaan mama.
"Apa ya ma? Ica kurang tau sih, yg jelas waktu itu Ica datang, di suguhin minum, lalu Ica di antar ke kamar kak ray" ucapku.
"Minuman apa, Ca?" Tanya papa.
Aku mengendikkan bahu.
"Entahlah, minuman itu berwarna seperti susu, tapi rasanya sepat dan agak asam, aneh nya lagi meskipun rasanya tidak enak, Ica malah habisin minuman itu" jawabku.
Aku bergidik ngeri, mau muntah rasanya jika tau kalau itu adalah darah Cakrawati, kini penduduk sekitar pun tak pernah lagi menaruh sesajen untuk pohon jujuk, aku dengan Mutia kini berteman dan aku sering ke tempat Yai Wiji.
Suatu hari Mutia bertanya kepada Yai.
Yai bilang Cakrawati bukan orang jahat, ia terpaksa seperti itu karena itu sudah takdirnya, Mutia bingung" tanya Mutia.
"Bingung kenapa? Yai akan beritahu, tapi setelah ini jangan pernah lagi bahas dia, mengerti?" Ucap Yai, kami manggut dan bersiap mendengar cerita Yai.
"Tau? Kenapa pohon itu dinamakan pohon Jujuk?" Tanya Yai, kami menggeleng.
"Karena yg punya rumah tua itu bernama Jujuk, pohon itu juga mikik Jujuk, Cakrawati adalah anak dari Jujuk, kejadian ini sudah sangat lama, saat kakek Yai masih kecil, Cakrawati di fitnah dan di kucilkan warga, lalu bunuh dirii, karena Jujuk tak terima, ia mendatangi seorang dukun ilmu hitam, ia meminta untuk mengikat sukma anaknya itu di pohon samping rumahnya, pohon Jujuk itu, Sejak itu Cakrawati selalu meminta tumbal, jika tidak, warga pasti selalu tertimpa musibah, akan terjadi kelaparan selama warga tak menyerahkan tumbal, akhirnya orang tua Aji lah yg menganggupi untuk memberi tumbal, pertama, tumbal itu berupa hewan lembu, tapi entah apa perjanjian yg mereka lakukan, tumbal itu berubah menjadi manusia, orang tua Aji menjadi kaya raya lalu membeli tanah di desa sebelah, ia menjadi orang kaya, dengan menumbalkan kerabat bahkan warga yg tak bersalah, itu semua berlanjut hingga Aji dewasa" jelas Yai Panjang lebar.
"Lalu Yai melakukan melakukan perjanjian dengan Romo Aji dengan memberi sesajen Agar tak ada tumbal lagi?" Tanya Mutia, Yai manggut, "sebenarnya itu atas bantuan kakek mu, "Darah Cakrawati, itu yg membuat ia terikat dengan mu, untung saja satria menghalangi Cakrawati, setidaknya menghambat" ucap papa.
Sumber : https://twitter.com/AyyuIkka
Cerita "Sesajen Pohon Jujuk" Part 6 Cerita "Sesajen Pohon Jujuk" Part 6 Reviewed by Dean Miftahul Hamdan on 7:42 PM Rating: 5

No comments

Post AD