Header AD

Cerita "Sesajen Pohon Jujuk" Part 3


Halo sahabat Aku Indo !!
Kali ini kita bakal lanjutin cerita horror "Sesajen Pohon Jujuk". Ini udah part yang ketiga ya sahabat Aku Indo. Buat sahabat Aku Indo yang belum baca part 1 dan part 2, bisa langsung klik link dibawah yaaa hehe. (biar ceritanya nyambung).
Langsung aja nih cerita part 3 nya.

7. FIGHTING
(Aku sebagai Ray)
"Ray, ambil tali..!!" Perintah papa kepada ku.
kulihat badan Ica mengejang hebat, matanya melotot, dia memegangi leher nya seperti sedang di cekik, aku sama sekali tak kuasa melihat adik ku seperti ini, mama menangis dengan masih mengenakan mukenanya. Tak henti-henti nya mama berdoa dengan mulutnya komat-kamit beristighfar, matanya sembab karena sudah hampir 5 jam Ica seperti ini, pipi dan mukenah nya basah dengan air matanya.
"Ray, jangan bengong cepat ambil tali" pinta papa membuyarkan lamunanku, aku segera mencari tali dan memberikan ke papa.
"Ikat tangannya Ray, papa ikat kakinya" katanya.
"Aaaaaaaakkkkhhh" teriak Ica, papa segera mengalungkan tasbih di leher Ica dan berdoa.
"Kembalikan anakku!!, apa mau mu?? Tidak!!" Teriak papa dengan masih memejamkan matanya. papa seorang paranormal dengan ilmu putih, aku tak begitu peduli apa yg dilakukan papa selama ini, tapi kali ini, aku harus membantu papa untuk menyelamatkan adik ku.
Ica masih meronta-ronta, papa menghela nafas lalu membuka matanya,

"Ray, kamu adzan, papa akan coba tarik sukma Ica" pintanya, aku manggut dan segera Adzan,
"Allahu Akbar Allahu Akbar.....".

8. ADZAN

("Aku" sebagai Ica)
Aku kaget kenapa aku mengucapkan itu? Apa cakrawati merasuki ku?. Aku berjalan menuju sebuah singgasana, dua orang dari mereka mengambil beberapa ayam lalu memotong nya, darahnya yg menetes ditaruh di sebuah bejana berwarna emas. Mereka melalukan sebuah ritual dengan mengucap mantra dan nyanyian yg asing ditelinga ku, menari dan melompat bersamaan, aku berdiri dari singgasana lalu mengucapkan mantra yg sama sekali tak ku mengerti.
Hanya satu kalimat yg ku dengar "lali omah lali jiwo" entah apa maksudnya, aku berjalan menuju bejana berisikan darah ayam kemudian hendak meminum nya, aku tahan tubuh ku sekuat tenaga agar aku tak meminum nya. Tapi sama sekali tidak bisa, tubuh ku serasa di kuasai makhluk bernama Cakrawati ini,
*BLLLAAARRRRRR* suara seperti petir menyambar, keadaan tiba-tiba gelap, hanya setitik cahaya terang yg aku lihat.
"AAAKKKKKHHHHHHH" teriakan itu memekakkan telinga, aku mencari kesana kemari tak kutemui orang-orang tadi, aku menengok ke atas, kepulan asap hijau keluar dari tubuhku, tubuh ku bergetar hebat, dadaku sesak saat asap ini keluar dari tubuhku. Kudengar seruan adzan, perlahan tubuhku melayang, kegelapan sirna digantikan dengan cahaya terang, hawa yg semula panas kini menjadi dingin dan nyaman, aku mulai bisa bernafas dengan normal.

9. WETON
"Bodoh!! yg kamu lakukan itu bisa bahayain nyawa adikmu, bahkan nyawa mu sendiri" bentak ayah kepada kak Ray. aku keluar dari kamar karena sangat haus, sudah seminggu ini aku berbaring di tempat tidur papa tak memperbolehkan ku untuk keluar rumah sampai weton ku. Setelah kejadian itu, badanku terasa sakit semua, lemas, dan aku sama sekali tak bisa tidur dengan nyenyak.
"Mmm maa maaf pa" kata kak Ray lirih dan terbata-bata,
"Ada apa, pa?" Tanyaku, kulihat mimik wajah papa berubah menjadi lembut saat menatapku.
"Ica mau kemana?" Tanya papa.
 "Ambil minum pa" jawabku, kak Ray tak berani menatapku, ia menunduk nampak gelisah.
"Sayang, biar mama aja yg ambil minum ya" sahut mama yg keluar dari kamar mandi, aku manggut lalu duduk di sebelah Kak Ray.
"Kak ray kenapa? Ada masalah?" Tanyaku.
Kak Ray masih tak mau menatapku, dia meneteskan air matanya.
"Kok Kak Ray nangis, Ica punya salah sama Kak Ray?" Tanyaku lagi, kali ini Kak Ray sudah mau menatapku, dia menangis lalu memeluk ku.
"Maafin kakak, kakak bodoh, ga bisa jaga adik kakak" katanya dengan suara bergetar, lalu meninggalkan ku dengan papa di meja makan.
"Pa, ada apa sebenarnya?" Tanyaku, papa mengendikkan bahu.
"Dua hari lagi weton kamu, Ica harus rajin ibadah, banyakin dzikir ya, jangan sampe pikiran Ica kosong" jelas papa.
"Mama buatin madu lemon hangat buat Ica" kata mama sembari menyodorkan gelas kepadaku.
Kulihat mama menggeleng kepala papa.
"Papa akan cerita setelah semua selesai ya, nak" kata papa.
Aku masih memikirkan Kak Ray, kenapa Kak Ray nangis dan ngomong gitu?
"Weton Ica besok puasa ya nak" pinta papa, aku manggut.

10. SUARA ITU LAGI
Sore itu seperti biasa, mama menemaniku duduk di teras, semenjak kejadian itu papa tak pernah membiarkanku sendiri, kadang mama, papa, kak Ray atau bibi yg menemaniku, kuliat untuk yg kesekian kalinya beberapa warga lewat samping rumah membawa persembahan. Entah untuk siapa dan dimana persembahan itu diletakkan, aku masih dan sangat penasaran, tapi mengingat kejadian mengerikan tentang Cakrawati waktu itu membuatku bergidik ngeri, aku tak mau lagi berurusan dengan "mereka".
Keesokannya mama belanja ke pasar, papa ke kantor, kak Ray keluar entah kemana, hanya aku dan bibi yg ada dirumah.
"Non Ica tunggu disini ya jangan kemana-mana, bibi mau jemur baju bentar" pintanya, aku manggut.
Saat aku asyik menonton tv, tak lama kudengar suara bibi memanggilku.
"Non Ica, kesini non" teriaknya.
"Ada apa bibi panggil aku? Apa mungkin butuh bantuan? Atau bibi khawatir meninggalkan aku sendiri?" Batinku.
Aku segera bergegas menuju ke tempat bibi menjemur baju, tempat jemuran dirumahku berada di lantai dua, dimana saat berada disana akan terlihat rumah tua dibelakang rumah serta pohon besar itu.
"Bi, ada apa panggil Ica?" Tanyaku.
Tak ada jawaban, baju-baju sudah di jemur, tak kutemui bibi dimanapun,  mata ku tertuju  kebawah, ke arah dimana pohon tua besar itu berdiri kokoh, disana kujumpai beberapa tetangga meletakkan persembahan yg mereka bawa.
Kini aku tau kemana mereka pergi, tapi aku masih belum tau tujuan mereka apa, kini pandangan ku tertuju kerumah tua itu, rumah yg tak ku tau kenapa ditinggalkan, di jendela kaca nako aku melihat sepasang mata mengintip.
Perlahan jendela itu terbuka, nampak jelas seorang dengan wajah hitam nya, dari bibirnya dia bergumam, aku mencoba mengamati apa yg ia ucapkan, namun tetap tak ku mengerti, tiba-tiba aku mendengar bisikan "DIA DALAM BAHAYA!!!".

11. SOSOK HITAM
*BRUUAAAKK*
Aku terbangun dari tidur ku karena mendengar pintu dibanting dengan keras, tak kutemukan mama disampingku, padahal seminggu ini mama tak pernah meninggalkan ku tidur sendiri. Karena rasa penasaran ku yg besar aku putuskan untuk melihat ada apa diluar, aku turun dari ranjang berjalan menuju pintu, perlahan kubuka pintu sedikit agar bisa melihat keadaan diluar, hening, benar-benar hening.
"Ah, ngga ada apa-apa, mungkin tadi suara tikus jatuhin barang" aku bermonolog, segera kututup pintu, sebelum
"Hhhhhhaaaa" kudengar suara berat diluar. Aku segera membuka pintu dengan lebar, celingukan mencari sumber suara.
Mataku berhenti tertuju pada sosok dibawah tangga, wujudnya serba hitam, dengan rambut berantakan, tangannya menunjuk ke arah kamar kak Ray, sontak aku melihat ke arah yg ia tunjuk.
"Ada apa?" Tanyaku, saat ku menoleh ke sosok itu lagi, ia sudah tak ada disana.
Aku mencarinya ke dapur, ke ruang tamu, dimana pun tak kutemukan dia, aku segera berlari ke arah kamar kak Ray, kubuka pintu kamar kak Ray, aku tercekat kaget melihat apa yg ada di depanku.
"Kak Ray..!!!" Teriak ku.
Aku melihat sosok nenek-nenek dengan rambut putih acak-acakan, dua gigi emas sementara gigi yg lain berwana merah karena susur sirih (mangunyah sirih dan pinang).
Nenek itu menjilati pipi kak ray dengan wajah ngerinya, kak ray hanya terdiam.
"Tolong.. tolong. " katanya lirih.
"Berhenti, siapa kamu?" Tanyaku.
Si nenek mendongak melihat ke arah ku, matanya full putih tanpa ada pupil nya, terlihat bibirnya menyungging tersenyum tipis, dengan cepat dia melesat ke arahku.

Sumber : https://twitter.com/AyyuIkka
Cerita "Sesajen Pohon Jujuk" Part 3 Cerita "Sesajen Pohon Jujuk" Part 3 Reviewed by Dean Miftahul Hamdan on 6:26 PM Rating: 5

No comments

Post AD