Cerita "Sesajen Pohon Jujuk" Part 5
Halo sahabat Aku Indo !!
Kali ini kita bakal lanjutin cerita horror "Sesajen Pohon Jujuk". Ini udah part yang kelima ya sahabat Aku Indo. Buat sahabat Aku Indo yang belum baca part 1, 2, 3 dan part 4, bisa langsung klik link dibawah yaaa hehe. (biar ceritanya nyambung).
Langsung aja nih cerita part 5 nya.
17.
SIAPA YANG HARUS KUPERCAYA?
Malam
itu aku duduk bersama mama dan papa.
"Ica
udah tau semuanya, mama sama papa jangan sembunyikan apa-apa lagi dari
Ica" ucapku. Papa tersenyum.
"Papa
ga nyembunyikan ini dari kamu, hanya saja papa ngga cerita sama kamu, papa
ingin kamu cari tau dengan caramu sendiri, Ca" kata papa. Aku manyun.
"Jadi,
pa... Kak Ray gimana? Ga selama nya kan, kak Ray kayak gitu?" Tanyaku.
Wajah papa berubah.
"Papa
akan usahakan agar masalah ini selesai, papa juga sudah menyerahkan Ray kepada
Romo Aji, InshaAllah kakakmu baik-baik saja" jelasnya.
Malam
itu aku berusaha memejamkan mata, susah sekali untuk tidur, aku sangat khawatir
dengan kak Ray, hanya itu pikiran yg berkecamuk di benakku.
"Ca..
Ica" terdengar seseorang memanggil ku, aku bergegas bangun dan mencari
sumber suara itu berasal.
*DOK
DOK DOK* terdengar jendela ku diketuk serampangan. Aku membuka tirai jendela, kulihat ada
bayangan perempuan disana.
"Ca..buka"
pinta nya.
"Ga
mungkin kan setan minta bukain jendela, pasti nya dia bakal nembus"
batinku.
Aku
segera membuka jendela kamarku, "Mutia!!", Wajahnya panik menoleh ke
kanan dan ke kiri, sama seperti dulu aku melihatnya di belakang rumah seketika
aku mengingat kejadian potongan tangan saat itu. Tanpa aba-aba Mutia langsung
masuk ke kamarku, dengan nafas ngos-ngosan nya, aku bertanya.
"Ada
apa Mut?", Dia masih mengatur nafas, diwajahnya terlihat jelas ada
kekhawatiran disana.
"Ca,
kamu percaya kan sama aku?" Tanyanya. Aku heran, untuk apa dia datang
kemari? Aku tak menjawab nya, gara-gara dia, kakak ku jadi seperti ini, aku
juga sempat jadi korban.
"Percaya
buat apa maksud mu?" Tanyaku.
"Ca,
tolong kamu selametin kakak mu, dia dalam bahaya, Ca, dia ga aman ditempat
itu" ucapnya, kali ini suaranya sudah tak bergetar lagi.
"Bukannya
kamu ya yg buat kak Ray bahaya kayak gini?" Tanyaku ketus.
"Aku?
Kok aku sih Ca? Emang aku udah berbuat apa?" Tanya nya balik. Aku
benar-benar kesal dengan Mutia, dia sama sekali tak merasa bersalah.
"Aku
bakal dicari, Ca, kalo kamu mau tau yg sebenarnya, besok aku tunggu di gubug
(rumah singgah di sawah) sore ya" ucapnya.
[Keesokan
harinya]
Aku
sungguh di buat Penasaran soal Mutia, kenapa dia sama sekali ga ngerasa salah,
padahal jelas-jelas dia yg membuat kak Ray seperti ini. Akhirnya aku nekat,
kuputuskan untuk pergi menemui mutia, tak peduli resiko apa nanti yg harus ku
hadapi, aku mencari cara agar bisa keluar rumah, karena saat itu dirumah ada
mama. Setelah mengantungi izin dari mama aku segera pergi, aku terpaksa bohong,
jika aku jujur mama tak akan membiarkan ku menenui Mutia.
Seperti
biasa, hawa dan pemandangan di persawahan saat sore hari sangat lah indah,
angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membuatku melupakan sejenak masalah rumit
ini. Sayang, itu semua hanyalah sementara, kulihat Mutia sudah menunggu, gadis
berparas cantik bermata sayu ini berhasil membuat kakak ku jatuh cinta dan
menderita.
"Langsung
aja ya, Mut, apa yg mau kamu sampaikan" ucapku ketus, bola matanya memutar
ke kanan dan ke kiri, seolah memastikan tak ada telinga lain yg mendengar.
"Ca,
kamu jangan percaya sama Romo Aji, dia yg udah buat kakak mu seperti ini, yg
membuat hidup keluarga mu tidak tenang" ucapnya. Aku shock Mutia berkata
seperti itu.
"Jelas-jelas
kamu dan keluarga mu yg membuat keluarga ku ga tenang, bisa-bisanya kamu
melimpahkan kesalahan ini kepada orang lain!!" Ucapku dengan nada kesal.
Dia menggeleng kepala.
"Kamu
udah di hasut sama dia, Ca, kamu udah masuk perangkap nya, tolong sadar, Ca,
sebelum terlambat" ucap nya, kali ini nadanya agak memohon.
"Percuma
Ngomong sama kamu, intinya aku minta sama kamu dan keluarga mu untuk ga ganggu
aku dan kak Ray, bisa kan? Kami mau hidup tenang" kataku setengah
berteriak.
"Aku
terlanjur sayang sama Ray, Ca, aku bakal cerita semua ke kamu, setelah aku
cerita, terserah kamu mau percaya atau ngga" ucapnya.
18.
YAI WIJI
(Cerita
Mutia, Mutia sebagai "aku")
Rutinitas
sehari-hari ini membuatku bosan, seperti biasa, setiap kali suntuk, aku selalu
pergi ke sawah, untuk sekedar menghirup udara segar, dan pemandangan disana tak
ada dua nya indahnya. Melepas penat, di kampung ini, tak ada yg bisa di
andalkan selain sawah ini, karena disini, kami bisa melihat gunung yg megah
itu.
"Maaf,
kamu siapa?" Tanyaku,
Kulihat
ada seorang lelaki asing duduk di gubug biasa aku singgah, dia menoleh ke
arahku, lekaki tampan, berkulit putih bersih, nampak wajahnya sedih.
"Oh,
saya orang baru disini" jawabnya seadanya, aku duduk di sampingnya.
"keliatan
nya, mas sedih?" Tanyaku, entah kenapa mulutku lancang sekali bertanya
seperti itu. Dia menatap ku sejenak, agak ragu menceritakan beban hidupnya
padaku.
"Maaf
saya lancang, mas" ucapku, lalu dia tersenyum.
"Kayaknya
aku ketemu teman baru" ucapnya, ia pun menceritakan bahwa adiknya
belakangan ini berperilaku aneh, sering teriak dan ngomong sendiri.
Aku
pun bertanya,
"Sejak
kapan?"
"Dua
minggu setelah pindah kesini" jawabnya.
"Apa
sebelum nya keluarga mu pernah datang atau kedatangan Romo Aji?" Tanyaku
to the point. Dia nampak kaget.
"kok
kamu tau? Iya sih, Romo Aji pernah ketemu papa dan mereka mulai akrab "
jawabnya. Sudah kuduga, dia mencari mangsa lagi.
"Kalo
bisa sih kamu lebih hati-hati ya sama Romo Aji, dia bukan orang baik, apapun yg
ia beri jangan diterima, buang saja!!" saranku.
"Maksud
mu apa, ya? Eh nama mu siapa? Aku Ray" Tanyanya.
"Mutia,
kamu belum pernah terima apapun darinya, kan?" Tanyaku lagi..
Dia
nampak berpikir,
"Apa
ya?" Katanya lirih.
"Hmm
aku inget, Romo Aji kasih bros ke Ica, tapi lewat bibi.
"Bibi
minta aku untuk ngasih ke Ica" jawabnya.
"Bibi
siapa?" Tanyaku.
"Bibi
yg kerja dirumah, dia juga rekomendasi dari Romo Aji sih" jawabnya.
"Maksud
mu Bu Ratmi?" Tanyaku, Ray manggut.
"Ikut
aku, Ray!!" Ajak ku,
"Kemana?"
Tanyanya.
"Ketemu
Yai ku" jawabku. Aku menggandeng tangan Ray, menaiki motornya menuju rumah
Yai Wiji, kakek ku.Aku menceritakan apa yg Ray katakan tadi,
"pancet
ae, ga berubah blas, Aji!!" (Tetap seperti itu dia, ga berubah
kelakuannya) ucap Yai geram.
"Maksudnya
apa Yai? Romo Aji ingin berniat jahat?" Tanya Ray.
"Bisa
bahasa jawa ga, Le?" Tanya Yai.
"Sedikit,
Yai, minta tolong bahasa Indonesia aja Yai" jawab Ray nyengir. Yai manggut
dan tersenyum.
"Dulu
sebelum ada keluarga mu, ada orang baru disini, Aji juga melakukan hal yg sama,
waktu itu saya kecolongan, korban Aji sudah banyak, sehingga saya dan dia
membuat perjanjian" terang Yai Wiji.
"Korban?"
Tanya Ray.
Yai
manggut.
"Dia
menjadikan orang tak bersalah sebagai tumbalnya untuk "penunggu"
pohon jujuk, demi kekayaan dan keabadian nya, 15 tahun yg lalu, secara tidak
langsung dia sudah membunuh satu keluarga, sama seperti kalian, mereka
pendatang" jawabnya.
"Jadi,
Romo Aji menjadikan keluarga kami sebagai tumbal?" Tanya Ray lagi.
"Tepat,
tapi saya lihat, papa mu bukan orang sembarangan, maka dari itu Aji mendekati
papamu terlebih dahulu" jawab Yai.
"Lalu
perjanjian apa yg Yai dan Romo Aji lakukan?" Tanya Ray.
"Orang
kampung Kamilah yg memberi sajen tiap hari untuk pohon jujuk, tapi dengan
syarat, Aji tak mengganggu dan melakukan tumbal nyawa lagi, baik di desa ini,
maupun di desanya" jelas Yai.
"Tapi..
dia sekarang sudah melanggar janjinya, saya sebagai sesepuh desa ini tak bisa
tinggal diam, karena keselamatan warga sini adalah tanggung jawab saya"
lanjutnya.
"Jadi..
bibi, maksud saya, bi Ratmi, itu juga sekongkol dengan Romo Aji? Tanya Ray.
"Ratmi
itu istri ketiga dari Aji, istri pertama dan istri kedua telah dijadikan tumbal
karena ia tak mau mencari mangsa, mereka bukan orang jahat seperti Aji, berbeda
dengan Ratmi, Ratmi yg sampai saat ini setia mendampingi Aji" terangnya.
"Bi
Ratmi istri Romo Aji? Tapi setau saya, suaminya bernama pak Burhan, ia sering
antar jemput bu Ratmi, dan dia mengaku sebagai suami bu Ratmi" ucap Ray.
Yai
tertawa mendengar ucapan Ray, "bukan, Ray, pak Burhan itu juga kaki tangan
Romo Aji" potongku.
"Kalian,
tidak bohong?" Tanya Ray meragu.
"Untuk
apa kami bohong? Untungnya apa Ray?" Tanyaku, Ray terdiam.
"Sudah,
pulang lah, papa mu pasti bisa mengatasi ini semua, perlahan bicara dengan
papamu, agar tak terlalu percaya dengan Aji" pesan Yai.
"Lalu
bagaimana adik saya, Yai?" Tanya Ray.
"Adik
mu bukan anak sembarangan, "dia" tak akan mudah untuk mengambil sukma
adikmu" jawab Yai.
"Dia?
Maksudnya Romo Aji?" Tanya Ray lagi, Yai menggeleng.
"Penunggu
pohon jujuk" jawabnya mengakhiri obrolan kami.
19.
TERUSLAH BERJALAN
(Ica
sebagai "aku")
"Bohong!!"
Ucapku,
"Seperti
kataku dari awal, kalo kamu ga percaya silahkan, aku disini cuma mau selametin
keluarga mu, terutama Ray, Ca" kata Mutia.
"Apa
buktinya kalo kamu jujur?" Tanyaku, Mutia tertawa kecil.
"Ca..
Ca.. kamu pernah kan terima bros dari kakakmu?" Tanyanya, betul, bukan kah
di awal dia sebut bros itu? Memang kak Ray waktu itu memberikan nya padaku.
"Ah,
bisa aja itu bros dari kamu" ucapku masih tak percayalah, Mutia hanya
mengendikkan bahu.
"Kan
kamu tau, aku baru kenal kakak mu, sementara kejadian bros itu saat kamu baru
pindah kemari" jelasnya.
"Benar
juga" batinku.
"Tapi,
kenapa waktu itu kamu berdiri di pohon jujuk tengah malem?" Tanyaku yg
berhasil membuat Mutia kaget.
"Kamu
tau, Ca?" Tanya nya.
"Aku
bertemu dengan Bu Ratmi, dia mengancamku, agar aku tak lagi ikut campur, dia
ingin mengambil sukma mu" jawabnya.
"Tapi,
ga semudah itu, karena kamu dan papa mu bukan orang sembarangan" imbuhnya.
Ya,
samar-sama aku mendengar dia seperti itu malam itu.
"Tapi...
Kenapa Romo Aji bilang, kamu dan kak Ray melakukan hubungan badan dirumah tua
itu? Makanya "penunggu" disitu marah, mereka mengincar kalian, tapi
karena kalian dilindungi Yai wiji, Jadi "penunggu" itu
mengincarku?" Tanyaku.
"Ca,
kamu nangkep ga sih cerita aku tadi? Dia ga pernah incer kakak mu, yg dari awal
di incer itu kamu, soal cerita itu hanya karangan Romo Aji saja, ini desa ku,
mana mungkin aku melakukan hal bodoh di tempat sakral?" Tanyanya berhasil
membuatku tercekat.
"Tapi,
kenapa kak Ray sekarang seperti ini? Apa karena "mereka" tak berhasil
membawa "Sukma" ku jadi kak Ray yg jadi sasaran?" Tanyaku.
"Bukan,
Ca, "mereka" ga incer Ray, yg mereka incer itu kamu, Ray jadi seperti
itu karena dia tau semua nya, Romo Aji takut rencana nya untuk
"ambil" kamu gagal, Romo Aji melakukan ini, agar kamu dan papamu
lengah, menyerahkan semua ini padanya, lalu dia lebih mudah
"mengambil" sukma mu" terangnya panjang lebar.
"Kenapa
harus aku Mut?" Tanyaku.
"Kamu
istimewa, bau mu sama dengan "dia", Ca" jawabnya.
"Hah?
"Dia" siapa Mut?" Tanyaku, Mutia menggeleng.
"Aku
tak mau sebut dan dengar namanya, Ca" jawabnya.
"Cakrawati?"
Ucapku lirih.
"Ca!!"
Teriaknya.
"Aku
mau pulang, bentar lagi magrib, kamu cepet pulang, jangan pernah berhenti meski
ada yg manggil kamu, dan tolong selamatkan Ray" pesan nya.
"Gimana
caranya aku selametin kakak, Mut?" Teriak ku. Mutia tetap berlari pergi
hingga tak terlihat lagi, aku segera pulang dari sana. "Ica" suara yg
tak asing, suara kak Ray, aku ingat betul apa kata Mutia, "jangan pernah
berhenti meski ada yg memanggil".
Sumber : https://twitter.com/AyyuIkka
Cerita "Sesajen Pohon Jujuk" Part 5
Reviewed by Dean Miftahul Hamdan
on
10:12 PM
Rating:
Reviewed by Dean Miftahul Hamdan
on
10:12 PM
Rating:

artikelnya menarik bang, sukses terus
ReplyDeletemakasih bang kunjungannya
Deletemakasih bang
DeleteAmin bang
ReplyDeleteNama tokohnya kek saya nih, Ray😂
ReplyDeleteNice kisahnya bg..
Makasih bang
Deletehehe pinjem namanya :((
Delete