Header AD

Cerita "Sesajen Pohon Jujuk" Part 4


Halo sahabat Aku Indo !!
Kali ini kita bakal lanjutin cerita horror "Sesajen Pohon Jujuk". Ini udah part yang keempat ya sahabat Aku Indo. Buat sahabat Aku Indo yang belum baca part 1,2 dan part 3, bisa langsung klik link dibawah yaaa hehe. (biar ceritanya nyambung).
Langsung aja nih cerita part 4 nya.

12. HALUSINASI YANG BERLEBIHAN
"Bangun, nak" suara mama membangunkan ku,
"Ica mimpi apa?" Tanya mama. Aku masih diam mencerna mimpi itu, kenapa semua mimpi ku seperti nyata.
"Ng..ngga..a..da..ma, Ica mimpi biasa aja kok" jawabku bohong. Aku tak mau membuat mama khawatir.
"Ya udah Ica sahur yuk, mama udah siapin, nanti mama temenin puasa" ajak mama.
Aku manggut, kusempatkan menengok kak Ray di kamarnya, dia tertidur dengan pulas, aku lega, ku balikkan badan hendak berjalan ke ruang makan, "tunggu dulu" batinku. Aku menghentikan langkahku.
"Kenapa baju kak Ray sama kayak yg ada di mimpi ku?" Pikirku. Aku segera membuka pintu kamar kak Ray lagi. Kak Ray sudah berdiri di balik pintu.
"Ngagetin ya ampun" ucapku.
"Jangan cerita ke siapa pun apa yg kamu liat tadi, ca" pinta nya, lalu dia segera mengunci pintu. Aku mematung beberapa saat.
"Jadi itu tadi bukan mimpi? " Batinku. Aku  menggedor pintu kak Ray.
"Buka kak, buka pintunya" teriakku.
"Ngapain, ca?" Tanya mama.
"Kak Ray, ma" jawabku.
"Kak Ray kan dirumah temennya, ngga pulang malem ini" kata mama sembari membuka pintu. Pintu itu terbuka tak terkunci, kak Ray juga tak ada di kamarnya.
"Udah ayo sahur bareng, kamu tuh halusinasi, ca" kata mama. Benar sekali, rasanya aku ingin ini hanya halusinasi ku saja, bukan kenyataan agar semua baik-baik saja.

13.  BIBI
Sudah 3 hari ini kak Ray ga pulang, aku hubungi, handphone nya ngga aktif.
"Sebenarnya kak Ray kemana sih, Ma? Ga biasanya kak Ray lama kayak gini dirumah temennya" tanyaku ke mama.
Mama hanya diam, seolah berat menjawab pertanyaan ku, setelah diam beberapa saat mama akhirnya membuka suara.
"Kakak mu dirumah Romo Aji, Ca" jawabnya.
"Romo Aji? Siapa ma?" Tanyaku. Mama menggeleng.
"Udah Ica ngga perlu tau, ngga perlu mikirin ini ya pokoknya kakakmu baik-baik aja kok" jelasnya lalu meninggalkan ku.
Siang itu seperti biasa, mama belanja dan papa kerja, aku dirumah berdua dengan bibi, aku memutuskan untuk cuti di semester ini, karena banyak ketinggalan terlebih lagi aku tak fokus belajar.
Bibi ku belum tua banget, dia berumur sekitar 30 tahunan, dia berasal dari desa ini juga, setiap Subuh bibi datang, setelah isya menyiapkan makan malam, bibi pulang kerumahnya. Aku menghampiri nya, kulihat dia sedang mengupas sayur.
"Mau masak apa bi?" Tanyaku.
Kulihat bibi nampak kaget karena aku membuyarkan lamunannya.
"Eh..non Ica, ada apa non? Non butuh bantuan bibi? Tanyanya balik, bibi nampak tak mendengar pertanyaan ku tadi.
"Ngga ada, bi, Ica malah mau bantu bibi" jawabku.
"Non Ica istirahat aja di dalem non, atau nonton tv" saran nya.
"Bosen ah bi, Ica bantu potong wortelnya ya" tawarku, bibi pun manggut.
"Ini nanti buat sayur sop, non, sama perkedel kentang kesukaan den Ray" ucapnya.
"Kak Ray? Bibi ngga tau kalo kak Ray dirumah romo Aji?" Tanyaku,
Kulihat bibi meneteskan air mata lalu buru-buru mengusapnya agar tak terlihat olehku.
"Iya non, bibi cuma kangen aja sama den Ray" katanya.
Aku sedikit bingung, kenapa bibi harus nangis? Harusnya aku sebagai adiknya yg sedih karena kangen.
"Jadi bibi tau kalo kak Ray disana? Emang siapa Romo Aji itu bi?" Tanyaku.
"Emm, non , udah dulu ya bibi mau lanjut masak buat makan siang" katanya buru-buru meninggalkan ku. Aku mengejarnya.
"Bi, cerita sama Ica, apa yg bibi tau?" Desak ku. Bibi hanya terdiam, aku terus-menerus merengek, aku tau bibi menyayangi ku, karena di umur nya saat ini, di usia pernikahan nya yg tk sebentar, bibi belum juga dikaruniai anak.
Bibi yg tak tega melihat ku merengek akhirnya bercerita.
"Non Ica tunggu di kamar aja, setelah ini selesai, bibi janji akan cerita" katanya tersenyum, aku lega dan manggut.

14. ROMO AJI
(Bibi sebagai "Aku")
Setelah 15 menit berlalu aku menyelesaikan pekerjaan ku, aku segera menuju kamar non Ica, aku sangat senang bekerja dengan keluarga ini, mereka sangat baik, mereka akur dan bahagia. Namun ada satu kejadian yg membuat keluarga ini jadi tak sebahagia dulu, karena keluarga ini sedang dalam bahaya, sedang di incar penunggu pohon jujuk.
Ku ketuk pintuk kamar yg terbuka, non Ica seolah tak sabar mendengar apa yg akan ku katakan tentang kakaknya, dalam hati kecilku aku merasa ragu, namun, aku juga tak bisa menutupi ini darinya. Bagaimanapun juga, non Ica harus tau yg sesungguhnya.
"non Ica tau kan, den Ray itu anak yg baik?" Kataku mengawali pembicaraan. Aku hanya ingin menguatkan keyakinan non Ica sebelum aku melanjutkan. Dia manggut, di matanya ada rasa penasaran dan beribu pertanyaan.
"Den Ray harus dibawa ke tempat Romo Aji, agar dia aman disana, non" ucapku yg membuat dia masih tak mengerti.
"Nyawanya saat ini terancam, makhluk itu semakin hari semakin berani, dia siap untuk mengambil sukma den Ray" lanjut ku, kali ini dia tak sabar untuk bertanya.
"Bi, Ica bener-bener bingung, tolong bibi cerita sedetail-detailnya, dari awal sampai saat ini, dan apa ini ada hubungannya sama kejadian yg menimpa Ica tempo hari?" Desaknya dengan pertanyaan yg jelas susah untuk ku jelaskan.

15. ROMO AJI PART II
( Cerita Bibi)
Malam itu aku hendak pulang karena pekerjaan ku telah usai, seperti biasa, aku pamit ke nyonya dan tuan, mereka biasa diruang keluarga berkumpul nonton televisi.
"Udah Ray, kamu nurut aja apa kata papa mu, jangan lagi berhubungan dengan Mutia" ucap nyonya yg samar-samar kudengar.
Aku ragu untuk berpamitan, karena takut mengganggu mereka, obrolan mereka sepertinya serius, aku tak mau mengacaukannya, akhirnya aku putuskan untuk menunda kepulangan ku.
"Ma, aku cinta sama Mutia, aku mau nikah sama dia" kata den Ray, suaranya lumayan keras, hingga aku bisa mendengar nya.
"Firasat papa ga enak, kalo kamu tetap sama dia, jangan libatkan keluarga jika ada sesuatu yg terjadi padamu!!" Bentak tuan kepada den Ray.
Ya, sejak percakapan saat itu, keluarga mereka mulai tak harmonis, sikap non Ica juga aneh, ia sering melamun, berbicara sendiri, hingga teriak-teriak tak jelas. Puncaknya dimana saat sukma non Ica dibawa pergi sang penunggu pohon, itu membuat ku harus extra mengawasinya, tak bisa membiarkan dia sendirian.
___________
"Dek, yopo jeragan mu?" (Dik, gimana bos mu?) Tanya suamiku, aku terdiam sejenak, aku hanya bingung menceritakan ini dari mana.
"Ya wes tetep ngono kae, mas, mesake yoan" (ya tetap kayak gitu, mas, kasian sebenarnya) jawabku singkat.
"Pumpung durung kebablas, mending takokno nang romo Aji ae, be'e iso bantu, dek" (sebelum semuanya terlambat, lebih baik minta bantuan Romo Aji saja, dik) saran suamiku.
Esoknya sepulang kerja aku menyempatkan untuk ketempat Romo Aji di antar oleh suamiku, letak rumahnya di desa sebelah. Aku pun menceritakan apa yg aku tau.
Seperti biasa, wajah Romo yg teduh dan berkharisma, selalu tersenyum ramah, namun setelah aku bercerita, mimik wajahnya berubah, menjadi merah padam, selayaknya orang marah.
"Astagfirullah..ini sudah keterlauan" terangnya. suasana menghening, tak ada yg berani bicara, kami tau ada yg tak beres, dan ini adalah masalah besar.
Romo Aji melihat salah satu muridnya, lalu menghela nafas panjang,
"berat" katanya lirih.
"Mbak yu, "mereka" marah karena tempatnya sudah dirusak, itu makanya "mereka" minta imbalan, yaitu sukma salah satu dari mereka" jelasnya padaku.
Aku masih bingung, apa yg Romo Aji maksud, butuh waktu lama untuk aku mencerna.
"Sinten, Romo?" (Siapa maksud Romo?) Tanya suamiku.
"Kedua orang ini sudah berbuat yg tak seharusnya dilakukan ditempat sakral, ditempat yg sangat dijaga, berhubung mereka dilindungi orang yg mbau rekso, yg sama-sama kuat, mereka bisa bebas, dengan imbalan, nyawa orang yg tak bersalah" jelasnya.
"Romo, minta tolong, jangan Sampe ada nyawa yg hilang, apalagi orang yg tidak bersalah" pintaku,
"Siapapun yg ikut campur, harus bertaruh nyawa, karena ini sepenuhnya kesalahan dari dua orang ini" jawabnya.
"Kalian rundingkan dahulu dengan kedua orangtuanya, ajak mereka silaturahmi kemari, InshaAllah saya bantu sekuat tenaga saya" lanjutnya.
Dua hari setelah dari rumah Romo Aji, aku masih ragu untuk menceritakan kepada tuan dan nyonya, aku takut dibilang ikut campur atau lancang.
"Yuk, ngelamun ae" (mba yu, ngelamum aja) sapa Sarmi, tetangga ku, kami berpapasan di jalan.
"Yuk, kerasan ta kerjo di wong nyar iku?" (Mba yu, betah ga kerja ditempat orang baru itu?) Tanyanya.
"Kerasan, wong e apik kok" (betah, mereka sangat baik) jawab ku.
"Krungu-krungu, anak e sing wedhok iku kesurupan ya, yuk?" (Dengar-dengar anaknya yang perempuan pernah kesurupan ya mba yu?) Tanya nya lagi.
"Ora i, saking wingi loro arek e" (enggak kok saking kemarin dia sakit) jawabku bohong.
"Walah yuk, wong aku loh wes ero, wong sak kampung wes ero kabeh, arek iku dadi tumbal, gara-gara kelakuan e cacak e" (Halah Mbak yu, aku udah tahu kok orang sekampung juga sudah tahu semua, itu anak dijadikan tumbal gara-gara kelakuan kakaknya) ucap nya.
*DEGG!!*
"Jadi mereka sudah tau?" Batinku.
"Iyo ta? Aku malah ga ero loh" ( benarkah? Aku malah nggak tahu) kataku bohong. Aku ingin tau yg sebenarnya terjadi, aku sengaja memancing Sarmi agar ia bercerita. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, aku kaget setengah mati mendengar cerita Sarmi.
"bodoh!! betapa kejinya kelakuan manusia kepada saudara nya" batinku.
Saat itu juga aku memutuskan untuk segera mengatakan kepada nyonya dan tuan, sebelum semua ini terlambat, sebelum nyawa orang yg tak bersalah jadi taruhannya.
"Maaf nyonya, tuan, sebelum nya.." aku pun menyampaikan kepada mereka,
"Sudah saya duga, ini perbuatan Ray dengan pacarnya, selama ini saya diam karena saya pikir teror ini sudah berhenti, tapi ternyata "mereka" masih mengincar Ica" kata tuan.
"Tapi bukan hanya non Ica yg sedang dalam bahaya, tuan, den Ray juga" ucapku.
"Baik, besok kita ke tempat Romo Aji, ya bi?" Pinta tuan yg segera aku iyakan.

16. PERGI..LARI..!!
(Ica sebagai "aku")
"Jadi itu makanya kak Ray dibawa kerumah Romo Aji?" Tanyaku, bibi manggut.
"Apa bi, yg udah kak Ray dan mutia lakuin? Dan apa hubungannya sama Ica? Kenapa "mereka" mengincar Ica?" Desakku.
"Bukan kapasitas bibi untuk bicara ini, non, sebaiknya non kerumah Romo Aji saja, bibi antar" ucapnya,
"Ayo bi, sekarang ya?" Ajakku. Aku dan bibi menaiki motor untuk sampai ke tempat Romo aji, sekitar 25 menit kami sampai dirumah yg bibi maksud, rumah bergaya klasik, besar dan megah, dengan dua pilar di kedua sisinya. Kami dipersilahkan masuk, dan duduk, tak lama datang seorang lelaki gagah, berumur sekitar 45-55 tahun, beliau tersenyum menyambut kami.
"Ica, sehat?" Tanyanya. Aku lumayan kaget, karena beliau sudah tau namaku, aku manggut. Bibi berbicara setengah berbisik dengan Romo Aji.
"Ica mau ketemu kakaknya? Mari Romo antar" tawarnya. Aku mengikuti nya di belakang, ku amati satu-persatu ruangan yg kulewati, benar-benar klasik, mulai dari dinding, perabot, model bangunan, sampai hiasan dirumah ini sangat kuno. Tak lama kami pun sampai di depan pintu, pintu berwarna kuning, separuh kebawah terbuat dari kayu, separuh ke atas dari kaca, kami masuk dengan melewati beberapa pintu lagi.
"Masuklah" ucap Romo Aji,
Aku sedikit ragu, kubuka pintu perlahan, aku melihat kakaku disebuah ranjang, ranjang tingkat dari besi berwarna biru, ia terbujur kaku disana. "Kak Ray" panggil ku, aku segera berlari menghampirinya, namun dia hanya diam, aku menangis disampingnya, kupeluk kakakku, aku sangat merindukan kak Ray. Air mataku menetes tak henti-hentinya, aku hanya bisa memandangi wajah nya yg sangat pucat.
"Kak Ray kenapa kayak gini? Kak Ray bangun, Ica kangen sama kak ray" teriakku.
Lama..lama sekali kak Ray hanya diam, aku berdoa agar Allah selalu melindungi kakak ku, perlahan mulut kak ray bergerak, hanya mulutnya saja, matanya masih tertutup.
"Jangan gampang percaya dengan dia" ucapnya lirih hampir tak terdengar, tapi aku yakin, yakin sekali kata-kata itu terucap dari bibir kak Ray.
"Maksud kak Ray dia siapa?" Tanyaku sembari menggoyang tubuh kak Ray.
"Pergi, lari dari sini!!" Bisik kak Ray, kulihat air matanya menetes, aku buru-buru mengelapnya.
"Non, ayo pulang" panggil bibi, aku tak menjawab nya, aku masih memeluk kak Ray.
"Romo Aji pasti jaga den Ray, non, non Ica tenang aja ya, non Ica mau den Ray segera sembuh kan? " ucap bibi membuat aku sedikit lebih tenang.
"Romo, tolong cerita sama saya, sebenarnya apa yg terjadi sama kakak?" Tanyaku.
"Tenang..tenang dulu ya, nak" jawab Romo Aji.
"Sebenarnya kakak kamu dan pacarnya itu sudah melakukan hubungan badan di tempat sakral, "penunggu" ditempat itu marah dan minta sukma dari mereka, tapi berhubung kakak kamu dan pacar nya itu di lindungi, jadi "penunggu" disana meminta tumbal orang lain, yaitu kamu" jelasnya.
Aku tercengang mendengar apa yg Romo Aji katakan,
"Sementara ini saya sudah berhasil melindungi kamu, tapi sayangnya, sukma kakak mu yg saat ini sedang di ikat oleh "mereka"" imbuhnya.
"Jadi, ini semua karena Ica? Gara-gara Ica lepas dari incaran mereka, jadi sekarang kak Ray yg di incar?" Tanyaku.
"Ini bukan salah nak ica, semua terjadi sesuai hukum alam" jawabnya.
"Romo,, Ica minta tolong, selamatkan kak Ray, Ica yakin, kak Ray ga sengaja ngelakuin itu" rengek ku. Romo masih tersenyum.
"Romo pasti bantu, asal Ica nurut" jawabnya.
"Non, ayo pulang, nyonya sama tuan bentar lagi dateng" ajak bibi, aku pamit kepada Romo Aji.
"Terimakasih Romo" ucapku, Romo hanya manggut dan tersenyum.
Dlm perjalanan aku masih memikirkan kata-kata kak Ray, "dia" siapa yg dimaksud? Kenapa kak Ray memintaku untuk pergi dan lari? Kenapa aku merasa kak Ray tidak aman berada dirumah Romo Aji?

Sumber : https://twitter.com/AyyuIkka
Cerita "Sesajen Pohon Jujuk" Part 4 Cerita "Sesajen Pohon Jujuk" Part 4 Reviewed by Dean Miftahul Hamdan on 9:01 PM Rating: 5

4 comments

Post AD