Cerita "Sesajen Pohon Jujuk" Part 1
Halo sahabat Aku Indo !!
Kali ini kita bakal posting cerita horror yang berjudul "Sesajen Pohon Jujuk". Cerita ini akan dibagi menjadi beberapa part cerita ya sahabat. Bagi sahabat Aku Indo yang gamau ketinggalan pantengin terus halaman blog kita, kita bakal update terus setiap hari. Langsung aja nih kita mulai ceritanya.
1. KAK RAY ???
Usang.. itulah yg terlihat ketika ku pandangi sebuah rumah kecil dibelakang rumah baruku. Ya.. aku baru saja pindah ke sebuah daerah pelosok, dengan jarak kurang lebih 3 km ke jalan besar, jalan menuju rumah baru ku adalah jalan yg sangat sepi. Jarang sekali ada kendaraan melewati jalan tersebut meskipun siang hari. Bukan karena angker ataupun hal lain, namun memang desa yg kutempati saat ini adalah sebuah desa kecil dengan dikelilingi areal persawahan, desa yg hanya ditinggali tidak lebih dari 30 kepala keluarga. Meskipun ini tergolong desa kecil dan pelosok, sebagian besar dr warga sini orang berada, rumah mereka yg berdiri megah nan mewah.
Rumahku? Rumahku adalah rumah peninggalan belanda, blm sama sekali di renovasi, hanya perbaikan kecil saja, karena memang bangunan nya sangat kokoh. Rumah ini kosong Sejak kepergian alm kakek ku 25 tahun yg lalu. Aku sama sekali tak pernah tau wajah kakek dan nenek ku, hanya tau dr gambaran kedua orang tua ku saja, aku mengetahui jika kakek dan nenek ku adalah pahlawan yg dulu ikut berjuang untuk kemerdekaan negara ini.
Keluarga ku pindah karena papa ku dipidah tugaskan di kota ini, daripada membeli atau menyewa rumah di kota lebih baik kami tinggal dirumah kakek ku, tak masalah meskipun papa harus memakan waktu satu jam setengah untuk menuju kantor nya.
"Ngapain kamu disini Ca? Melamun pula?" Tanya kak Ray membuyarkan lamunanku, tak kujawab, aku hanya melihat kakakku dan menggelengkan kepala. Kak Ray kemudian menyusulku duduk di pelataran belakang rumah sembari mengeluarkan gawai nya.
Setelah beberapa lama "Kakak betah disini?" Tanya ku membuka obrolan.
"Meskipun baru dua minggu disini, kakak ngerasa udah lama tinggal disini Ca, kuliah kamu gimana?" Jawab kak Ray.
"Ya begitulah, Ica harus menyesuaikan diri di kampus Ica yg baru kak" ucapku.
"Sabar yaa Ca, tinggal dikit kan kuliah nya selesai, bentar lagi bakal di panggil bu dokter nih" goda kak rey sembari mengacak-acak rambutku.
"Kak Rey ah, jadi berantakan dong", saat sedang asik aku bercanda dengan Kak Ray, tiba – tiba …
*KREEETTTEEEKKKK* . Terdengar bunyi kayu kering terinjak, aku dan Kak Ray serempak menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Sepertinya dari pohon besar itu Ca" ucap kak Ray tanpa melihatku. Kak Ray berjalan mendekati pohon besar tersebut. Aku menahan kak Ray dengan menggenggam pergelangan tangan Kak Ray, Kak Ray menatap ku seolah berkata "tak apa..". Aku menggeleng kepala mengisyaratkan agar Kak Ray tidak datang ke pohon besar di depan kami yg hanya sekitar lima langkah lagi.
Bulu kuduk ku merinding tatkala melihat sekitar, di sebelah rumah kecil, lebih tepatnya gardu penyimpanan kayu, terdapat pohon besar, aku masih belum bisa melihat pohon apa ini. Aku hanya merasa ada yg tidak beres disini.
"Lepasin Ca, kakak mau liat ada apa disana" ucap kak Ray berusaha melepaskan genggaman erat ku,
*KREETEK*
aku tercekat kaget, bulu kuduk ku meremang, kulihat kak Ray sudah tidak ada di samping ku. Sosok Kak Ray menghilang di balik pohon besar itu.
"Woy Ca ngapain disitu? Ga banyak nyamuk apa?" Teriak Kak Ray yg berada di ambang pintu belakang.
"Apa? Jelas sekali aku melihat Kak Ray berjalan ke belakang pohon, tapi kenapa sekarang ia sudah berada disana?" Batin ku.
Akupun berlari menghampiri Kak Ray,
"Kak Ray suka banget sih godain Ica, ga lucu tau !!" Ucapku sembari mencubit lengan Kak Ray.
"Apasih, siapa juga yg godain kamu? Kakak aja baru pulang sholat jamaah isya dari musholla" geram Kak Ray.
"Halah jangan bohong kak, jelas-jelas tadi kak Ray ngobrol sama Ica kok" jelas ku ngotot.
"idih ini anak ga percaya banget sih, tuh sana tanya sama papa, wong tadi kakak jamaah sama papa kok" jawab Kak Ray.
*ckckck* aku menggeleng kepala dan memutar bola mata ku, masih tak percaya ucapan kak Ray.
*SUARA HEMBUSAN NAFAS*,
Aku dan kak Ray saling menatap, "denger ga ca? suara nafas nya berat banget, dari mana ya?" Tanya kak Ray.
aku melihat pohon besar tersebut, sebelum,
"wooaaaaaa" aku berteriak berlalu bersembunyi di belakang badan Kak Ray yg tegap dan gagah. Aku menutup mata ku dengan satu tangan, sementara tangan yg lain menunjuk ke arah pohon besar, kak Ray mengikuti arah telunjuk ku.
"Pocong anj*ng !!" Teriak kak Ray sembari menutup pintu belakang. Kami serempak berlari menuju teras dimana kedua orang tua kami berada. "Mama.." teriak ku sembari memeluk mamaku.
"Sudah liat salah satu penjaga pohon di belakang toh kalian?" Ucap papa dengan terkekeh.
"Jadi papa udah tau?" Tanya kak Ray.
Yg hanya papa jawab dengan anggukan dan tetap tertawa geli melihat kami berdua ketakutan. Sudah 3 jam aku hanya menatap langit-langit kamar, susah mata ini untuk terpejam, memikirkan dan melihat hal yg menyeramkan.
"Apa jangan-jangan makhluk tadi yg menyerupai kak Ray?" Batinku,
Aku masih mengingat betul sosok putih itu duduk di pohon, tidak, lebih tepatnya melayang diantara cabang-cabang pohon, dengan wajahnya yg hitam, ada dua taring di mulutnya, kain nya yg sudah tak putih lagi. "Lampor" begitulah Papa tadi menyebutnya.
"Ca, kakak ga bisa tidur, kakak tidur disini ya, kakak masih takut Ca" ucap kak Ray yg memasuki kamarku. Sengaja tak kututup pintunya karena jujur saja aku masih takut. Aku hanya diam, tak menjawab kak Ray, aku takut jika orang yg ada di depan ku bukan lah kak Ray, ku ambil gawai, kunyalakan aplikasi senter di gawai ku, ku soroti kak Ray yg ada di depanku, dari atas kepala hingga kaki.
"Apaan sih dek, silau tau..!!" Kata kak Ray sembari berjalan menuju ranjangku. Kulihat ia membawa bantalnya, kakinya pun napak ke lantai.
"Oke aman" batinku.
"Kamu masih keinget sosok tadi ya Ca?" Tanya kak Ray, aku mengangguk. Tak lama setelah itu kami pun tertidur.
2. TATAPAN MENGERIKAN
Hari ini kuliah ku libur, aku bisa bersantai keliling desa dengan mamaku, meskipun sudah dua minggu tinggal disini, aku sama sekali belum pernah jalan-jalan, karena sibuk menata dan beberes rumah, ditambah lagi aku harus mengurusi kuliah di kampus baru ku.
Aku sedang duduk di teras menunggu mama yg masih bersiap-siap, kulihat beberapa orang membawa sesuatu, semua orang mebawa barang yg sama, menuju jalan setapak di samping rumahku, aku pun menyapanya "bu.. mau kemana?" Tanya ku ramah. Salah satu dari mereka melihat ku dengan tatapan sangat tajam, ia tak menjawab dan tetap melangkah pergi menuju belakang rumah, aku mengenakan sendal ku dan beranjak pergi untuk mengikuti mereka.
Rasa penasaran ku membuat ku bertanya-tanya untuk apa mereka membawa tampah yg berisi macam-macam makanan dan juga beberapa jenis dupa.
"Ica, kamu jangan ikut campur, sayang" bisik mama ku yg tak tau kapan ia sudah ada di belakangku.
"Semakin banyak yg kamu tau, semakin bahaya pula dirimu, mari,, kita jalan sekarang, keburu panas" ajak mama ku.
Aku dan mama mengendarai motor matic untuk berkeliling desa, desa ini sangat luas. Meskipun desa ini hanya terdiri beberapa kepala keluarga, tapi area persawahan dan hutan jati membuat jarak rumah satu dan yg lainnya terasa jauh, tetangga terdekat ku pun berjarak 200 meter dari rumah. Sejuk, angin semilir, gemericik air di sungai kecil samping jalanan membuat suasana kian syahdu.
"Mama udah lama dek ga ngerasain pemandangan indah kayak gini" ucap mama membuka obrolan, aku mengangguk .
"Kota kita yg dulu kalo ga macet ya banjir ma hehe" jawabku nyengir.
Setelah puas berkeliling aku dan mama berhenti disebuah gubuk, masih dengan pemandangan persawahan yg hijau asri.
"Ma sepanjang perjalanan kok aku liat di setiap ladang ada tiang dililit kain merah ya" tanyaku ke mama.
"Itu tempat penjaganya dek" jawab mama.
"Penjaga gimana sih ma? Adek ndak ngerti maksud mama" tanya ku lagi.
"Udah dek, Ica ga perlu bahas soal ini lagi, ayo lanjut perjalanannya" kata mama sembari menggamit lenganku.
Setelah sampai di balai desa aku melihat banyak orang berkerumun.
"ma, ada apa ya?" Tanyaku. Mama menggeleng dan masih menatap kerumunan orang-orang, perlahan aku turun dari motor dan turun.
"Ca, udah ayo pulang" ajak mama.
"Bentar ma, Ica pengen tau" kelak ku.
"Ica mau nurut sama mama ngga?" Tanya mama dengan nada marah dan mata melotot, selama ini mama ngga pernah marah dan membentakku.
Aku hanya terdiam lalu menuruti mama untuk segera pulang, mata ku masih tertuju kepada keramaian itu, kulihat seseorang berdiri mematung, di saat kerumunan orang-orang yg ribut dan panik hanya dia sendiri terdiam dengan tatapan kosong menatapku.
3. GADIS BERNAMA MUTIA
Tiga bulan telah berlalu, aku sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan warga sekitar yg membawa tampah melewati sebelah rumah, meskipun aku sangat penasaran untuk apa mereka kesana, tapi aku selalu ingat kata-kata mama untuk tidak ikut campur. Kudengar kak rey juga kini dekat dengan seorang gadis bernama Mutia, cucu dari sesepuh desa ini, mutia gadis cantik, anggun, pendiam, misterius dan sedikit aneh.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari, aku hendak ke dapur untuk mengambil air minum.
"Ora gampang-gampang...." (Ga semudah itu.....)
Suara lirih itu kudengar, aku mengintip di jendela dapur, aku yakin sekali suara itu berasal dari belakang rumah. Seorang wanita berdiri disana, di depan pohon besar, dia seperti berbincang, tidak, dia berbisik, sesekali matanya melirik ke kanan dan ke kiri waspada. "Mutia?" Batinku, aku segera meraih gagang pintu dan membukanya, hendak menanyakan sedang apa ia disana?.
Tunggu, aku tidak yakin itu mutia, kejadian saat bersama kak Ray palsu waktu itu mengurungkan niatku untuk menghampiri orang ini, segera aku menarik kembali pintu untuk menutupnya, namun tertahan sesuatu. Deg.!!!, Jantungku berdegup kencang, aku memaksakan mataku untuk melirik ke atas, aku merasa sesuatu mengganjal di atas sana, saat mataku sudah tertuju di atas pintu, mataku tak bisa berkedip, mulutku mengangah, ingin aku teriak, namun lidahku keluh.
Tubuhku kaku, lama sekali aku terpaku disana, seonggok tangan terjepit di pintu atas, mana mungkin tangan orang di atas sana? Tangan pucat, kotor dengan tanah dan darah yg sudah mengering.
"Ca, pulang yuk?"
Ajakan itu membuyarkan semuanya, aku melihat di sekitar, aku berada di kampus, masih di kampus, lalu apa yg barusan aku alami? Mimpi? Aku sama sekali tidak tidur.
"Kenapa bengong ca?" Tanya temanku Dina.
aku masih kebingungan dengan keadaan ini.
"Maaf Din, aku ketiduran ya?" Tanyaku.
"Ketiduran gimana sih ca? Dari tadi kita ngobrol kok" jawabnya.
Sumber : https://twitter.com/AyyuIkka
Cerita "Sesajen Pohon Jujuk" Part 1
Reviewed by Dean Miftahul Hamdan
on
1:50 PM
Rating:
Reviewed by Dean Miftahul Hamdan
on
1:50 PM
Rating:

Mantap gan
ReplyDeleteDitunggu part selanjutnya
Oke gan makasih
DeleteDi tunggu part 2 nya ka.😁👍
ReplyDeletesiap gan makasih
ReplyDeleteMakasih bang
ReplyDelete